Puluhan Turis Mancanegara Kunjungi FDS 2010
Sentani (ANTARA News) - Sedikitnya 73 turis mancanegara dan 34.175 pengunjung lokal menyaksikan berbagai atraksi budaya di ajang Festival Danau Sentani (FDS) 19-23 Juni 2010.
Data sementara panitia pelaksana FDS yang diterima ANTARA, Rabu, hingga hari keempat Selasa kunjungan turis mancanegara 73 orang berasal dari berbagai negara Eropa, Afrika dan Jepang.
Secara rinci, arus kunjungan wisatawan ke ajang FDS terdiri Amerika 19 orang, Belanda (12), Jerman (6), Swiss (6), Rusia 22, Jepang (6) dan Afrika (2).
"Jumlah kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara kemungkinan bertambah pada hari akhir penutupan FDS, Rabu 23 Juni 2010 pukul 16.00," ungkap Ketua Panitia pelaksana FDS 2010 Ir Anna OSH Sawai di sela-sela persiapan penutupan FDS kampung Kalkhote distrik Sentani Timur, Rabu.
Ia mengatakan, untuk jumlah kunjungan wisatawan lokal tercatat 34 ribuan orang berasal dari berbagai kampung, distrik di kabupaten Jayapura serta kota Jayapura sekitarnya.
Dia mengakui, secara umum sejak pembukaan FDS sampai menjelang penutupan Rabu sore 23 Juni 2010 semua kegiatan yang dijadwalkan seperti pameran kerajinan, produksi dan pertanian, kuliner khas Papua, tour danau Sentani serta berbagai atraksi budaya khas Papua dan berbagai jenis lomba berjalan lancar sesuai jadwal.
Hingga hari terakhir ajang FDS, Rabu siang, terlihat sebagian besar stand pameran kerajinan produksi masih melakukan aktivitas melayani kunjungan masyarakat.
Pada Rabu petang, panitia pelaksana festival danau Sentani telah mengagendakan pesta kembang api yang berlangsung di kampung Kalkhote distrik Sentani Timur.
(M039/HLM/B010)
Presiden Panggil Menkopolhukam Bahas Topik Aktual
"Ya (memanggil Menkopolhukam), ada pertemuan biasa dalam pembahasan isu-isu terkait bidang polhukkam," kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha ketika dihubungi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu.
Djoko Suyanto tiba di kompleks Istana Kepresidenan sekira pukul 10.30 WIB. Dengan menggunakan mobil dinas, Djoko langsung memasuki kompleks istana untuk menghadiri pertemuan dengan Kepala Negara.
Sampai dengan pukul 12.19 WIB, belum ada keterangan resmi tentang substansi yang dibahas dalam pertemuan itu.
Julian mengatakan, Presiden dan Menkopolhukam membahas berbagai topik yang bersifat umum, terutama topik terkait politik, hukum, dan keamanan yang berkembang akhir-akhir ini.
"Saya kira pertemuan ini adalah pertemuan biasa saja," kata Julian tanpa menyebut secara rinci topik yang dibahas.
Selain Djoko, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam juga hadir.
(T.F008*D013/P003)
Harris Effendi Thahar Cerpenis Dikukuhkan Jadi Guru Besar
JAKARTA, KOMPAS.com - Penulis cerita pendek (cerpenis) terkemuka Indonesia Harris Effendi Thahar (60), Kamis (24/6/2010) di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, dikukuhan Rektor Universitas Negeri Padang, Prof Dr Z Mawardi Effendi M.Pd sebagai guru besar tetap dalam bidang pendidikan sastra Indonesia.
Harris yang meraih gelar doktor pendidikan sastra di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta tahun 2006, karya-karya sastranya dimuat dalam buku-buku kumpulan cerpen terbaik Kompas. Kumpulan cerpennya berjudul Si Padang, diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2003. Tahun 1995 Harris pengajar tamu Bahasa Indonesia di Universuty of Tasmania, Australia.
"Saya akan sampaikan pidato pengukuhan Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah," katanya, Rabu (23/4/2010). Harris kini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
RI-Jepang Tandatangani Pinjaman Lunak

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia dan Jepang menandatangani perjanjian pinjaman lunak untuk program perubahan iklim senilai 27.195.000.000 yen.
Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Selasa (22/6/2010), penandatanganan itu dilakukan oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika TM Hamzah Thayeb dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri di kantor Kementerian Luar Negeri.
Penandatanganan dokumen pinjaman lunak itu dihadiri oleh pejabat dari Kedutaan Besar Jepang, instansi terkait dari Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri, Kementerian Keuangan, Direktorat Pendanaan Luar Negeri Bilateral, BAPPENAS, serta Kementerian Luar Negeri.
Perjanjian pinjaman dari Pemerintah Jepang itu dimaksudkan untuk membantu perekonomian dan pembangunan di Indonesia, terutama dalam mendukung upaya-upaya pengurangan emisi gas rumah kaca serta peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pinjaman lunak untuk Program Perubahan Iklim (III) tersebut akan dikenakan bunga 0,15 persen per tahun dengan masa pengembalian selama 15 tahun termasuk grace period (masa tenggang) dalam jangka lima tahun.